Narita International Airport,Japan

Preparing for departure

East West Center, University of Hawaii

All of the participants for Civic Education short course, University Of Hawaii

Davi and Haris

Happy family of my little sister

Elementary School in Hawai'i

Fun learning and school visit

Project Citizen SMP Negeri 16 Bandar Lampung

Implementasi model Project Citizen di SMPN 16 Bandar Lampung

Narita International Airport

Funny and new experience

Senin, 23 Desember 2013

Pendidikan Karakter “Thomas Lickona”


Pendidikan Karakter “Thomas Lickona”
Perhatian Lickona terhadap nilai-nilai karakter dan pengembangannya telah menjadi kajian dalam beberapa tahun terakhir. Lickona berfokus kepada bagaimana menerapkan nilai-nilai karakter dari hal-hal yang sangat sederhana yang pada akhirnya akan memberikan dampak yang sangat besar dimasa yang akan datang bagi setiap individu yang mampu melaksanakan nilai-nilai karakter itu sendiri dengan baik. Sebagaimana contoh-contoh sederhana yang dikemukakan oleh Lickona yang memberikan dampak dan pemahaman yang sangat mendalam mengenai implementasi nilai-nilai karakter, “We don't want them to lie, cheat on tests, take what's not theirs, call names, hit each other, or be cruel to animals; we do want them to tell the truth, play fair, be polite, respect their parents and teachers, do their schoolwork, ad be kind to others. (1991: 47). Dapat dijelaskan bahwa, dengan mengutamakan nilai kejujuran, tentu siswa diminta untuk tidak mencontek saat mengerjakan tugas atau ujian, tidak mengambil barang yang bukan haknya, memanggil dengan panggilan yang baik, menyayangi teman, dan memperlakukan hewan dengan baik. Dengan demikian, jelas bahwa kita menginginkan agar peserta didik kita berkata jujur (tidak bohong), adil, sopan santun, menghormati orang tua dan guru, mengerjakan tugas sekolah yang diberikan oleh guru, dan bersikap baik kepada setiap orang.
Karakter menurut Lickona terbagi atas beberapa bagian yang tercakup di dalamnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lickona di bawah ini:
Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior. Good character consists of knowing the good, desiring the good, and doing the good, habits of the mind, habits of the heart, and habits of action. All three are necessary for leading a moral life, all three make up moral maturity. When we think about the kind of character we want for our children, it's clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within. (1991: 51)

Berdasarkan pendapat Lickona di atas dapat dijelaskan bahwa karakter terdiri atas tiga korelasi antara lain moral knowing, moral feeling, dan moral behavior. Karakter itu sendiri terdiri atas, antara lain: mengetahui hal-hal yang baik, memiliki keinginan untuk berbuat baik, dan melaksanakan yang baik tadi berdasarkan atas pemikiran, dan perasaan apakah hal tersebut baik untuk dilakukan atau tidak, kemudian dikerjakan. Ketiga hal tersebut dapat memberikan pengarahan atau pengalaman moral hidup yang baik, dan memberikan kedewasaan dalam bersikap.

Pendidikan dalam Globalisasi


Pendidikan dalam Globalisasi
Proses pendidikan dan pembelajaran di dalam kelas saat ini tidak terlepas dari perkembangan informasi dan teknologi. Setiap pengajar dan pembelajar dituntut untuk mengikuti kemajuan zaman tersebut. Herschock (2007) mengatakan bahwa, “A second characteristics of contemporary globalization processes that has profound effects on education policies and practices in the manner in which these processes accelerate the pace of technological, scientific, social, economic, political, and cultural change.” Neubauer (2007) juga mengatakan bahwa, “Globalization has wrought transformations of similar scale: in how people live, work, communicate and engage with each other and the world, and in how they are educated.” Dengan demikian, berdasarkan pendapat Herschock dan Nuebauer di atas bahwa perkembangan informasi, teknologi secara global dapat membawa perubahan secara dinamis diberbagai bidang terutama dibidang pendidikan.
Era globalisasi menuntut setiap orang untuk dapat melakukan dengan apa yang dinamakan “daya saing.” Ini penting, dengan semakin derasnya informasi dan teknologi dalam kehidupan globalisasi seperti sekarang ini, individu harus dapat mengembangkan diri sendiri, komunitas, dan masyarakat luas, hingga ada dampak positif serta memajukan bangsa dan negara. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan di bawah ini:
Globalization has wrought transformation of similar scale: in how people live, work, identify and aggregate, communicate and engage locally, nationally, internationally, globally, and how they are educated. Changes are taking place in the nature of the state itself, in how states interact, and in the roles of supra and non state actors in organizing and affecting human behavior. At the core of contemporary globalization are transformations in how capital flows throughout the globe and is linked to production and consumption, in how energy is harnessed and consumed, in how information and knowledge are created, transmitted and conserved, how labor is employed and deployed, and how value is created, distributed, conserved and destroyed. (Hershock et al, 2007: 29)

Kemudian untuk membangun daya saing bangsa dan kemandirian sains dan teknologi memerlukan peran aktif semua pihak, baik pemerintah, dunia usaha, akademisi, maupun masyarakat secara umum. Oleh karena itu disinilah pentingnya letak pembentukan karakter bagi peserta didik walaupun memiliki kemampuan bersaing, agar tiap individu khususnya peserta didik untuk tetap beretika, bermoral, sopan santun dan dapat berinteraksi dan membangun masyarakat agar kedepan lebih baik.
Penting untuk menanamkan nilai karakter, tetapi hal ini saja tidaklah cukup, karena dengan melaksanakan nilai-nilai karakter baik dimulai dari hal-hal yang sederhana sekalipun tentu akan membentuk kepribadian unggul bagi tiap-tiap individu. Karakter juga tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Bagaimana setiap individu melaksanakan ibadah sehari-hari, melakukan kegiatan-kegiatan amal dan aktivitas positif lain yang berguna bagi sesama. Karakter erat keterkaitan terhadap pengembangan perilaku diri sendiri yang baik, kasih sayang sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang nantinya terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Karakter dalam implementasinya


Karakter dalam implementasinya
Pendidikan karakter dan bagaimana cara mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, selain mengembangkan dan memperkuat potensi pribadi juga menyaring pengaruh dari luar yang akhirnya dapat membentuk karakter peserta didik yang dapat mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Upaya pembentukan karakter sesuai dengan budaya bangsa ini tentu tidak semata-mata hanya dilakukan di sekolah melalui serangkaian kegiatan belajar mengajar baik melalui mata pelajaran maupun serangkaian kegiatan pengembangan diri yang dilakukan di kelas dan luar sekolah. Pembiasaan-pembiasan (habituasi) dalam kehidupan, seperti: religius, jujur, disiplin, toleran, kerja keras, cinta damai, tanggung-jawab, dan sebagainya, perlu dimulai dari lingkup terkecil seperti keluarga sampai dengan cakupan yang lebih luas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut tentunya perlu ditumbuhkembangkan yang pada akhirnya dapat membentuk pribadi karakter peserta didik yang selanjutnya merupakan pencerminan hidup suatu bangsa yang besar.

Guru sebagai pendidik dan pemimpin


Guru sebagai pendidik dan pemimpin

Banks (1997: 99) mengemukakan bahwa
Teachers, as well as other educators and leaders, must play an important role in educating students from diverse groups to become effective citizens in a democratic society. To become thoughtful and active citizens, students must experience democracy in classrooms and in schools. Action speaks much more cogently than words. Consequently, how teachers respond to marginalized students in classroom will to a great extent determine wheter they will experience democracy or oppression in classrooms and schools.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa guru sebagai pendidik dan pemimpin di kelas, hendaknya mampu memegang peranan penting dalam memberikan pengajaran kepada siswa walaupun mereka datang dari latar belakang yang berbeda untuk menjadikan mereka sebagai warga negara yang baik dan cerdas dalam kehidupan masyarakat yang demokratis, dan untuk menjadikan mereka sebagai siswa yang dapat berperan serta memiliki pemikiran yang baik.

Pendidikan Kewarganegaraan for the future


Pendidikan Kewarganegaraan for the future

Pendidikan kewarganegaraan masa depan membutuhkan suatu paradigma baru sebagai konsekuensi tuntutan globalisasi dan proses reformasi ke arah new Indonesian civic education. Menurut Azra dalam Zuhud (2010) “paradigma baru itu mau tidak mau, melibatkan reformasi besar yang mencakup perubahan kebijakan yang lebih terbuka, transparan, dan akuntabel”. Reformasi untuk membangun paradigma baru ini dimulai dari aspek yang mendasar , yaitu reorientasi visi dan misi, revitalisasi fungsi dan peranan, hingga restrukturisasi isi kurikulum dan materi pembelajaran. Menurut Setiawan dalam Zuhud (2010) pendidikan kewarganegaraan dengan paradigma baru mensyaratkan materi pembelajaran yang memuat komponen-komponen pengetahuan , keterampilan, disposisi kepribadian dapat bersinergi secara fungsional, bukan hanya dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan juga dalam masyarakat di era global. Hal tersebut digambarkan oleh Cogan (1998:13) bahwa pendidikan kewarganegaraan sebagai: “... the contribution of education to the development of those characteristics of being a citizen’ and the ‘process of teaching society’s rules, institutions, and organizations, and the role of citizens in the well-functioning of society’. Pendidikan Kewarganegaraan digambarkan sebagai ‘kontribusi pendidikan untuk pengembangan karakteristik-karakteristik warganegara' dan 'proses tentang aturan pengajaran masyarakat, institusi, dan organisasi-organisasi, dan peran warga negara dalam masyarakat yang berfungsi secara baik'.

Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan


Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan

Kalidjernih (2009:123-124) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan perlu menekankan pada dua persoalan yaitu: pertama menstimulir peserta didik untuk terus menerus merefleksi tentang makna dunia sosialnya, mereka perlu didorong untuk melihat bahwa hubungan antara individu dan masyarakat tidak sekedar dimediasi oleh norma-norma yang cenderung mengekang atau mendorong kepada suatu cara tindakan tertentu. Mereka perlu melihat sistem kemasyarakatan sebagai sumber daya atau pengetahuan yang memberdayakan yang diperlukan untuk masuk ke dalam interaksi sosial guna merespons pelbagai keadaan sosial ... Kedua Pendidikan kewarganegaraan perlu menekankan kepada anak didik untuk mempersiapkan diri lebih baik guna merespon terhadap kekuatan global di Indonesia. Yang perlu ditekankan adalah bahwa generasi muda kita tidak sekedar melakukan resistensi (counter culture) belaka tetapi meningkatkan pemahaman mereka terhadap kekuatan–kekuatan tersebut dan merangkul mereka untuk berkompetisi dan menang di tingkat global.

Kamis, 19 Desember 2013

Diskusi yang sehat dan tidak sehat


Diskusi yang sehat dan tidak sehat

Proses pembelajaran di kelas seringkali kita menemukan dan menggunakan metode diskusi. Metode diskusi sangatlah efektif untuk membuat siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Diskusi tentu harus berdasarkan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam berdiskusi ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, apakah diskusi tersebut sehat atau tidak sehat.

diskusi yang sehat:
  • terjadi kompleksitas dalam diskusi tersebut
  • diskusi tidak diam di tempat
  • diskusi mengarah kemana-mana
diskusi yang tidak sehat:
  • hanya diam di tempat
  • tidak mengarah kemana-mana
  • menafikan pendapat lain
  • kehilangan waktu atau peluang untuk membahas lebih dalam
  • kesepakatan terlalu cepat diambil atau di dapat