Narita International Airport,Japan

Preparing for departure

East West Center, University of Hawaii

All of the participants for Civic Education short course, University Of Hawaii

Davi and Haris

Happy family of my little sister

Elementary School in Hawai'i

Fun learning and school visit

Project Citizen SMP Negeri 16 Bandar Lampung

Implementasi model Project Citizen di SMPN 16 Bandar Lampung

Narita International Airport

Funny and new experience

Tampilkan postingan dengan label Articles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Articles. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Desember 2013

Diskusi yang sehat dan tidak sehat


Diskusi yang sehat dan tidak sehat

Proses pembelajaran di kelas seringkali kita menemukan dan menggunakan metode diskusi. Metode diskusi sangatlah efektif untuk membuat siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran. Diskusi tentu harus berdasarkan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam berdiskusi ada beberapa hal yang mesti diperhatikan, apakah diskusi tersebut sehat atau tidak sehat.

diskusi yang sehat:
  • terjadi kompleksitas dalam diskusi tersebut
  • diskusi tidak diam di tempat
  • diskusi mengarah kemana-mana
diskusi yang tidak sehat:
  • hanya diam di tempat
  • tidak mengarah kemana-mana
  • menafikan pendapat lain
  • kehilangan waktu atau peluang untuk membahas lebih dalam
  • kesepakatan terlalu cepat diambil atau di dapat

Teaching and Learning Strategies


Changes necessary in teaching and learning strategies
The article was taken from Rosnani Hashim (ITEC 2013, University of Lampung, Indonesia)
Institute of Education, International Islamic University Malaysia

In the past our learning and teaching strategies were basically concerned on cognitive understanding and retention of facts or content. At most we would like our students to be able to apply these facts in solving some problems in their daily lives, in examinations and in most cases as foundations for further higher learning. Basically it is the lower order of the Bloom’s taxonomy i.e. knowledge, understanding and application. It rarely attempts to do much analysis, evaluation and synthesis which are the higher order of the Bloom’s taxonomy that are crucial for critical and creative thinking, for proper judgement and good decision making. This are only provided at the end of high school or in the university. This was alright for a system of education that desires to sort out students based on grades to fit into the available occupational positions. Moreover the system was elitist then and meant to choose the best brains.

But today with technological changes and innovation, where information is accessible to all and the world grows more competitive, leading to a different kind of worker i.e the knowledge worker, the focus on education is not only on the products or the contents but more importantly on the process or the skills necessary to enable the formulation of a solution. As educators, we need to adapt our lesson presentations to these digitally “programmed” students. There is little hope that these digital natives will “power down” their minds to become more engaged with traditional learning styles (Pensky, 2001).
It is interesting how the changes of the present era was envisaged as early as 1916 when Dewey published his seminal work "Democracy and Education", which acknowledged that learners should become active participants in the educational process. The idea is that in learning from their own experience, students become, in a sense, their own teachers. The changed role of the learner has, in turn, implications for that of the teacher. Instead of the source of knowledge, teachers become facilitators of the learning process; that is, their role is to create the set of conditions under which students can best learn from their experiences. Moreover, teachers can fulfill this role only by becoming learners themselves, and a primary source of their learning must be their students. In a nutshell, teachers who learn become better teachers, and learners who teach become better learners. Although this idea seems straightforward enough, educators have been very slow to put it into practice. However, the rapid technological changes of the last few decades may well provide the catalyst that finally brings about these needed reforms in the field of education (Florin, L.& S. Sugioka, 2007).

Teaching and learning strategies today have to foster communication skills which in this century would mean proficiency in the English language, critical and creative thinking skills, and inter-personal and collaborative skills. The issue is how to foster these skills through teaching and learning. Good communication skills require the students to speak up and not just to listen and digest all that the lecturer informs them. Thus, a lecture is not suitable all the times. There ought to be discussion where students can express their ideas and also their views – however sloppy it might seems at first. The conversation should also be between students and students and not only between teacher and students. Only when the proper language is used will it be alive. Discussion can also be taken up into small group.

To foster critical thinking skills, students ought to be trained to reason well and be analytical. They must be able to give reasons for their belief. They must be able to provide evidence for their argument, give examples to illustrate, identify fallacies in reasoning, to think logically, through induction or deduction and to recognize valid and sound arguments. This can be done through analytical written exercises or in classroom discussion. To foster creative thinking, students have to be taught to sometimes think outside of the box or to be imaginative.

To foster collaborative skills and work as a team, students need to be encouraged to do some form of group or project work where each member is given a task to be worthy.

Senin, 16 Desember 2013

Pengalaman Kehidupan Siswa


Pentingnya Pengalaman Kehidupan Siswa dalam Kehidupan Global

Menerapkan proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan membutuhkan kinerja profesional guru secara utuh dengan tujuan agar siswa dapat memahami secara riil apa yang terdapat dalam konten materi yang disampaikan. Apakah cukup hanya dengan metode ceramah dan diskusi saja di kelas dalam pembelajarannya? Tentu saja hal-hal ini tidaklah cukup. Perlu upaya lebih nyata dari para guru untuk lebih mendekatkan diri siswa kepada kehidupan nyata yang terjadi di lingkungan dimanapun siswa tersebut berada. Dengan melihat secara langsung aktivitas kehidupan individu dan masyarakat dan siswa juga dilibatkan pada studi-studi kasus yang terjadi, maka siswa akan lebih paham dan mengerti mengenai apa yang sesungguhnya terdapat di lingkungan tempat tinggalnya. Kemudian, semakin bertambahnya pengalaman yang didapat oleh siswa, maka semakin terlatih pula siswa untuk dapat mencarikan solusi alternatif mengenai permasalahan sosial yang terjadi di sekitar diri siswa. Pengalaman ini penting bagi diri siswa untuk dapat hidup dalam kehidupan yang semakin modern seperti saat ini. Karena era globalisasi sekarang, lebih menuntut individu untuk lebih cerdas, kreatif, cepat, dan tanggap dalam mengantisipasi aspek-aspek kehidupan kapanpun dan dimanapun.

Aksioma Penjaminan Mutu


Aksioma Penjaminan Mutu

Mutu bukan tujuan, tapi sebuah perjalanan. Dan untuk mengejar mutu, perlu relevansi dan efektifitas. Mutu adalah sebuah sistem. Apabila aksioma penjaminan mutu tidak digunakan, maka tidak ada pergerakan akan penjaminan mutu itu sendiri. Berikan kesempatan kepada siapapun yang berada di bawah standar untuk berupaya kepada standar, berikan berapa jangka waktu yang dibutuhkan oleh mereka yang dibawah standar untuk sesuai standar. Dan apa yang dilakukan pun harus jelas berdasarkan standar yang ada. Tidak ada kompromi terhadap mutu, dengan demikian mutu harus sesuai dengan standar. Apabila belum berhasil, maka berikan waktu untuk penjaminan mutunya. Sekolah harus benar-benar serius dalam memperbaiki kinerja dan proses pembelajaran yang bagus dan tepat bagi anak-anak didik, sehingga anak-anak didik yang dihasilkan adalah betul-betul individu yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh standar kompetensi lulusan, siswa yang berkualitas, siswa yang terlatih, siswa yang sehat jasmani dan rohani, dan siswa yang cerdas. Oleh karena itu, instrumen harus tepat. Dan penjaminan mutu menjadi kunci untuk perbaikan pendidikan di Indonesia saat ini dan di masa mendatang.

Membangun Kreatifitas Guru


Mari Membangun Kreatifitas Guru Untuk Membangkitkan Semangat dan Minat Belajar Siswa

Kreatifitas guru dalam menciptakan proses pembelajaran yang menarik (kreatif dan inovatif) sangatlah penting. Semakin besar semangat dan minat siswa dalam belajar, maka akan semakin baik proses pembelajaran itu. Dengan demikian hasil lulusan adalah yang terbaik, karena keterlibatan diri siswa pada proses pembelajaran yang akan menambah pengetahuan, pengalaman, dan keberanian diri untuk menjadi lebih baik.

Kurikulum 2013:
  • rekonstruksi kompetensi
  • reformasi penilaian
  • revolusi proses
  • reposisi materi

Murid Perlu Keteladanan dari Guru


Murid Perlu Keteladanan dari Guru

Guru harus mampu menjadi teladan bagi siswanya. Penting bagi siswa agar guru menghadirkan sosok keteladanan dihadapan mereka. Guru harus bisa menyampaikan keteladanan itu dalam kehidupan sehari-hari. Apabila ada pertanyaan: Ada berapa jumlah guru yang memiliki keteladanan saat ini di Indonesia?

Jumat, 29 November 2013

ITEC 2013 - Teaching and Learning Strategies


Changes necessary in teaching and learning strategies
The article was taken from Rosnani Hashim (ITEC 2013, University of Lampung, Indonesia)
Institute of Education, International Islamic University Malaysia

In the past our learning and teaching strategies were basically concerned on cognitive understanding and retention of facts or content. At most we would like our students to be able to apply these facts in solving some problems in their daily lives, in examinations and in most cases as foundations for further higher learning. Basically it is the lower order of the Bloom’s taxonomy i.e. knowledge, understanding and application. It rarely attempts to do much analysis, evaluation and synthesis which are the higher order of the Bloom’s taxonomy that are crucial for critical and creative thinking, for proper judgement and good decision making. This are only provided at the end of high school or in the university. This was alright for a system of education that desires to sort out students based on grades to fit into the available occupational positions. Moreover the system was elitist then and meant to choose the best brains.

But today with technological changes and innovation, where information is accessible to all and the world grows more competitive, leading to a different kind of worker i.e the knowledge worker, the focus on education is not only on the products or the contents but more importantly on the process or the skills necessary to enable the formulation of a solution. As educators, we need to adapt our lesson presentations to these digitally “programmed” students. There is little hope that these digital natives will “power down” their minds to become more engaged with traditional learning styles (Pensky, 2001).
It is interesting how the changes of the present era was envisaged as early as 1916 when Dewey published his seminal work "Democracy and Education", which acknowledged that learners should become active participants in the educational process. The idea is that in learning from their own experience, students become, in a sense, their own teachers. The changed role of the learner has, in turn, implications for that of the teacher. Instead of the source of knowledge, teachers become facilitators of the learning process; that is, their role is to create the set of conditions under which students can best learn from their experiences. Moreover, teachers can fulfill this role only by becoming learners themselves, and a primary source of their learning must be their students. In a nutshell, teachers who learn become better teachers, and learners who teach become better learners. Although this idea seems straightforward enough, educators have been very slow to put it into practice. However, the rapid technological changes of the last few decades may well provide the catalyst that finally brings about these needed reforms in the field of education (Florin, L.& S. Sugioka, 2007).

Teaching and learning strategies today have to foster communication skills which in this century would mean proficiency in the English language, critical and creative thinking skills, and inter-personal and collaborative skills. The issue is how to foster these skills through teaching and learning. Good communication skills require the students to speak up and not just to listen and digest all that the lecturer informs them. Thus, a lecture is not suitable all the times. There ought to be discussion where students can express their ideas and also their views – however sloppy it might seems at first. The conversation should also be between students and students and not only between teacher and students. Only when the proper language is used will it be alive. Discussion can also be taken up into small group.

To foster critical thinking skills, students ought to be trained to reason well and be analytical. They must be able to give reasons for their belief. They must be able to provide evidence for their argument, give examples to illustrate, identify fallacies in reasoning, to think logically, through induction or deduction and to recognize valid and sound arguments. This can be done through analytical written exercises or in classroom discussion. To foster creative thinking, students have to be taught to sometimes think outside of the box or to be imaginative.

To foster collaborative skills and work as a team, students need to be encouraged to do some form of group or project work where each member is given a task to be worthy.  

Minggu, 24 November 2013

Ayo, susun perjalanan wisata anda saat berlibur di Bali

Berwisata menyenangkan di Denpasar-Bali
By: Mohammad Mona Adha

Kota Denpasar-Bali dapat ditempuh kurang lebih dua jam penerbangan dari Jakarta. Sangat banyak maskapai penerbangan yang melayani penerbangan ke Bali yang dapat anda pilih, so anda jangan khawatir ya tidak kebagian tiket pesawat. Setelah menempuh penerbangan, saat anda tiba di Bandara Ngurah Rai (Denpasar), anda akan langsung disambut atau merasakan nuansa atau suasana etnik khas Bali.

Berjalan-jalan di Denpasar-Bali tentunya sangatlah menyenangkan. Di Bali kita bisa berlibur sekaligus memperkaya, menambah pemahaman kita, dan mengenal mengenai budaya setempat dan adat istiadat yang ada di Bali. Seperti yang kita lihat/jumpai pada saat kita berada di Bali, banyak pura yang dapat dilihat secara langsung. Tidak hanya itu saja, di Bali pula kita dapat melihat bagaimana masyarakat disana mengenakan baju khas tradisi Bali dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

Di Bali, tidak hanya wisata alam saja yang dapat kita nikmati tetapi kita juga dapat mengunjungi tempat-tempat lainnya seperti wisata belanja dan kuliner. Wisata alam Bali sangatlah menyejukkan dan menyegarkan mata kita. Sengkedan sawah yang terhampar luas dan indah, pantai-pantai yang indah bersih disertai debur ombak  yang cukup membuat kita kagum betapa indahnya Pulau Dewata. Terdapat beberapa pantai yang dapat anda kunjungi selama anda berada di Bali. Pantai Kuta sebagai tujuan wisata domestik dan mancanegara sangat ramai dikunjungi oleh para wisatawan, sehingga tidak heran kalau pantai yang satu ini sangatlah ramai suasananya. Kemudian ada Pantai Sanur, Tanjung Benoa dan masih banyak yang lainnya.

Saat anda berada di Bali, jangan lupa untuk mampir ke Pasar Sukowati untuk memburu oleh-oleh. Lalu jangan lupa juga ke Danau Kintamani, Bedugul, Garuda Wisnu Kencana, Joger yang sangat terkenal.

Semoga liburan anda di Bali akan sangat menyenangkan.
Selamat berlibur...

Senin, 18 November 2013

Karakteristik yang harus dimiliki warganegara

This image was taken from triiz.wordpress.com

Cogan (1985: 115) mengkonstruksi karakteristik yang harus dimiliki warganegara sebagai berikut:
  1. the ability to look at and approach problems as a member of a global society (kemampuan mengenal dan mendekati masalah sebagai warga masyarakat global)
  2. the ability to work with others in a cooperative way and to take responsibility for one s roles/duties within society (kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat)
  3. the ability to understand, accpet, appreciate and tolerate cultural differences (kemampuan untuk memahami, menerima, dan menghormati perbedaan-perbedaan budaya)
  4. the capacity to think in a critical and systemic way (kemampuan berpikir kritis dan sistematis)
  5. the willingness to resolve conflict and in a non violent manner (kemampuan menyelesaikan konflik dengan cara damai tanpa kekerasan)
  6. the willingness to change one s lifestyle and consumption habits to protect the environment (kemampuan mengubah gaya hidup dan pola makanan pokok yang sudah biasa guna melindungi lingkungan)
  7. the ability to be sensitive towards and to defend human rights (eg, rights of women, ethnic minorities, etc), and (memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia (seperti hak kaum wanita, minoritas etnis, dsb)
  8. the willingness and ability to participate in politics at local, national, andd international levels (kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan politik pada tingkatan pemerintahan lokal, nasional, dan internasional)

Penyebab korupsi


Penyebab korupsi menurut Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan antara lain:

A. Aspek Individu
  1. sifat tamak manusia
  2. moral yang kurang sehat
  3. penghasilan yang kurang mencukupi
  4. kebutuhan hidup yang mendesak
  5. gaya hidup konsumtif
  6. masalah atau tidak mau kerja
  7. ajaran agaman yang kurang diterapkan

B. Aspek Organisasi
  1. kurang adanya sikap keteladanan pimpinan
  2. tidak adanya kultur organisasi yang benar
  3. sistem akuntabilitas yang benar di instansi pemerintah yang kurang memadai
  4. kelemahan sistem pengendalian manajemen
  5. manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasi

C. Aspek Tempat Individu dan Organisasi Berada
  1. nilai-nilai di masyarakat kondisif untuk terjadinya korupsi
  2. masyarakat kurang menyadari sebagai korban utama korupsi
  3. masyarakat kurang menyadari bila dirinya terlibat korupsi
  4. masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa mencegah dan dibatasi bila masyarakat ikut aktif
  5. aspek peraturan perundang-undangan korupsi mudah timbul karena adanya kelemahan di dalam peraturan perundang-undangan

Tujuh jenis korupsi (tipologi)


Dari segi tipologi, Hussen Allatas membagi korupsi dalam 7 jenis yang berlainan, yatu:

  1. korupsi otogenik (autogenic corruption) adalah suatu bentuk korupsi yang tidak melibatkan orang lain dan pelakunya hanya seorang
  2. korupsi transaktif (transactive corruption), menunjukkan pada adanya kesempatan timbal balik antara pihak pemberi dan penerima demi keuntungan kedua belah pihak dan dengan aktif diusahakan untuk tercapainya keuntungan oleh kedua-duanya
  3. korupsi yang memeras (ekstor type corruption) adalah jenis korupsi yang memeras
  4. korupsi defensif (defensive corruption) adalah pelaku korban korupsi dengan pemerasan
  5. korupsi invensif (investype corruption) adalah pembelian barang tnpa ada pertalian
  6. korupsi perkerabatan (mopotestik corruption) adalah penunjukkan yang tidak sah atau mengutamakan teman, sanak saudara untuk memegang jabatan
  7. korupsi dukungan (supportif corruption) adalah korupsi secara tidak langsung menyangkut uang tetapi dalam bentuk lain

Kamis, 14 November 2013

Lampung traditional dance, Sigekh Pengunten








Sigekh pengunten is the name one of Lampung traditional dance. Usually the number of the dancer in this traditional dance are only 5 dancer for the performance. It takes about 25-30 minutes to perform this traditional dance, so every dancer should have a good skill and fit condition to perform this dance. Sigekh pengunten dance is performing for welcoming the guess or opening the ceremony. If you come to Lampung Province, please do not forget to see and enjoy the performance.

International teacher education conference committee 2013







All committees are take part on this international conference in July 2013. Presented by Teacher Training and Education Faculty University of Lampung. This is the first ITEC, and annualy will hold by another university as a plan.

Rabu, 13 November 2013

Way Kambas - Elephant Training Center, Lampung-Indonesia








Selasa, 05 November 2013

Agar CTL lebih efektif


Perhatikan hal ini agar CTL lebih efektif

Agar pelaksanaan pembelajaran kontekstual lebih efektif, maka guru perlu melaksanakan hal-hal sebagai berikut.
  1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran perkembangan mental siswa
  2. Membentuk kelompok belajar yang saling tergantung.
  3. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri.
  4. Mempertimbangkan keragaman siswa.
  5. Memperhatikan multi-intelegensia siswa.
  6. Menggunakan teknik-teknik bertanya yang meningkatkan pembelajaran siswa, perkembangan pemecahan masalah, dan keteampilan berpikir tinggi.
  7. Menerapkan penilaian autentik yang akan mengevaluasi pengetahuan dan berpikir kompleks seorang siswa, daripada hanya sekedar hafalan informasi faktual (Nurhadi, 2003: 20-21).

Komponen contextual teaching learning


Contextual Teaching Learning

Salah satu strategi pembelajaran yang merupakan perangkat pembelajaran berasosiasi dengan kurikulum adalah strategi pembelajaran berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) dengan tujuh komponen pembelajaran yang meliputi:
  1. konstruktivisme (constructivism);
  2. menemukan (inquiry);
  3. bertanya (questioning);
  4. masyarakat belajar (learning community);
  5. pemodelan (modelling);
  6. refleksi (reflection);
  7. dan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).
Strategi pembelajaran menuntut guru PKn agar dapat menjadikan siswa mampu menghubungkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata siswa dan memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan tersebut dengan aplikasinya dalam kehidupan nyata.

Sekolah berbasis SNP


Sekolah berbasis SNP

Sekolah berbasis SNP adalah model penyelenggaraan pendidikan bermutu yang memenuhi standar nasional pendidikan, yang meliputi:
  1. Pemenuhan standar kompetensi lulusan
  2. Pemenuhan standar kurikulum (standar isi)
  3. Pemenuhan standar proses pembelajaran
  4. Pemenuhan standar penilaian
  5. Pemenuhan standar guru dan tenaga kependidikan
  6. Pemenuhan standar pembiayaan
  7. Pemenuhan sarana dan prasarana sekolah
  8. Pemenuhan standar manajemen sekolah

Evaluasi diri sekolah (EDS)


EDS (Evaluasi Diri Sekolah)

Komponen utama yang harus diidentifikasi berdasarkan data EDS (Evaluasi Diri Sekolah) adalah sebagai berikut:

Standar Kompetensi Lulusan
  1. kelayakan sikap dan perilaku
  2. kelayakan pengetahuan
  3. kelayakan keterampilan
  4. kemampuan berkomunikasi
  5. kemampuan melanjutkan pendidikan
  6. prestasi peserta didik

Standar Isi
  1. cakupan materi ajar
  2. pengahayatan agaman
  3. rancangan pembentukan sikap dan perilaku
  4. rancangan pembentukan pengetahuan
  5. rancangan pembentukan keterampilan
  6. kesesuaian kurikulum terhadap kebutuhan peserta didik

Standar Proses
  1. rancangan PBM
  2. pelaksanaan PBM
  3. Interaksi guru-siswa
  4. suasana di sekolah
  5. perbaikan pembelajaran
  6. dukungan sumberdaya

Standar Penilaian
  1. penerapan prinsip-prinsip penilaian
  2. penilaian sikap dan perilaku
  3. penilaian pengetahuan
  4. penilaian keterampilan
  5. analisis dan pemanfaatan hasil penelitian
  6. pelaporan penilaian

Standar pengelolaan
  1. penyusunan dokumen perencanaan
  2. kesesuaian RKS (rencana kerja sekolah) dengan visi dan misi sekolah
  3. kualitas RKS
  4. peningkatan mutu SDM
  5. peningkatan PBM
  6. efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya
  7. evaluasi dan supervisi oleh kepala sekolah

Perlunya kreatifitas guru


Diperlukan kreatifitas guru
By: Mohammad Mona Adha

Kenyataannya, terkadang ada sebagian guru hanya terpaku dan fokus kepada apa yang tertulis di dalam buku-buku pelajaran. Guru berfokus bagaimana menyelesaikan tema per tema, topik per topik dan dari bahasan ke bahasan yang yang dilingkupi oleh tulisan yang berasal dan bersumber dari buku paket.

Padahal seharusnya guru dapat mengembangkan dari materi yang ada di dalam buku. Apa yang menjadi topik dari dalam buku paket tersebut, guru harus dapat melengkapinya dengan informasi dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang dirasakan dapat memperkaya pembahasan dari topik yang ada. Sangatlah diperlukan, dengan ditambahkan dengan cara atau metode mengajar yang menarik, dapat ditambahkan dengan portofolio, ditambahkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang relevan dan memotivasi minat siswa di dalam kelas. Dengan demikian guru akan menjadi kaya ilmu dan kreatifitas yang dapat mencapai standar nasional sesuai dengan SNP yang diprogramkan oleh pemerintah.

Jadi sebenarnya apa yang dikatakan dengan materi bukanlah materi yang ada pada buku paket. Melainkan materi itu adalah, bagaimana hasil interpretasi guru yang disampaikan kepada siswa yang telah dikembangkan dan tentunya menarik bagi siswa. Dengan demikian guru hasrus memiliki kreatifitas dalam pengembangan bahan-bahan pelajaran untuk diajarkan ke dalam kelas.

Sabtu, 02 November 2013

Panduan terhadap topik yang akan diteliti


Situating within the literature
  1. what do we already know about this topic/issue already?
  2. Who else thinks this is important?
  3. What other research has been done?
Jadi pada saat kita akan mulai meneliti sebuah topik, paling tidak kita telah mengetahui sedikit banyak dari topik penelitian yang akan diangkat. Kemudian anda sebagai penulis dapat juga memikirkan bahwa kira-kira siapa saja/pihak-pihak mana saja yang berpikir bahwa topik tersebut penting untuk dilakukan. Lalu, bagaimana informasi yang kita dapatkan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga paling tidak kita sebagai peneliti telah mempunyai gambaran awal mengenai topik yang akan diteliti.


Analysing the data

  1. how i will interpret the data (theory)?
  2. How will i represent the data?