Narita International Airport,Japan

Preparing for departure

East West Center, University of Hawaii

All of the participants for Civic Education short course, University Of Hawaii

Davi and Haris

Happy family of my little sister

Elementary School in Hawai'i

Fun learning and school visit

Project Citizen SMP Negeri 16 Bandar Lampung

Implementasi model Project Citizen di SMPN 16 Bandar Lampung

Narita International Airport

Funny and new experience

Selasa, 05 November 2013

Evaluasi diri sekolah (EDS)


EDS (Evaluasi Diri Sekolah)

Komponen utama yang harus diidentifikasi berdasarkan data EDS (Evaluasi Diri Sekolah) adalah sebagai berikut:

Standar Kompetensi Lulusan
  1. kelayakan sikap dan perilaku
  2. kelayakan pengetahuan
  3. kelayakan keterampilan
  4. kemampuan berkomunikasi
  5. kemampuan melanjutkan pendidikan
  6. prestasi peserta didik

Standar Isi
  1. cakupan materi ajar
  2. pengahayatan agaman
  3. rancangan pembentukan sikap dan perilaku
  4. rancangan pembentukan pengetahuan
  5. rancangan pembentukan keterampilan
  6. kesesuaian kurikulum terhadap kebutuhan peserta didik

Standar Proses
  1. rancangan PBM
  2. pelaksanaan PBM
  3. Interaksi guru-siswa
  4. suasana di sekolah
  5. perbaikan pembelajaran
  6. dukungan sumberdaya

Standar Penilaian
  1. penerapan prinsip-prinsip penilaian
  2. penilaian sikap dan perilaku
  3. penilaian pengetahuan
  4. penilaian keterampilan
  5. analisis dan pemanfaatan hasil penelitian
  6. pelaporan penilaian

Standar pengelolaan
  1. penyusunan dokumen perencanaan
  2. kesesuaian RKS (rencana kerja sekolah) dengan visi dan misi sekolah
  3. kualitas RKS
  4. peningkatan mutu SDM
  5. peningkatan PBM
  6. efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya
  7. evaluasi dan supervisi oleh kepala sekolah

Perlunya kreatifitas guru


Diperlukan kreatifitas guru
By: Mohammad Mona Adha

Kenyataannya, terkadang ada sebagian guru hanya terpaku dan fokus kepada apa yang tertulis di dalam buku-buku pelajaran. Guru berfokus bagaimana menyelesaikan tema per tema, topik per topik dan dari bahasan ke bahasan yang yang dilingkupi oleh tulisan yang berasal dan bersumber dari buku paket.

Padahal seharusnya guru dapat mengembangkan dari materi yang ada di dalam buku. Apa yang menjadi topik dari dalam buku paket tersebut, guru harus dapat melengkapinya dengan informasi dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang dirasakan dapat memperkaya pembahasan dari topik yang ada. Sangatlah diperlukan, dengan ditambahkan dengan cara atau metode mengajar yang menarik, dapat ditambahkan dengan portofolio, ditambahkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya yang relevan dan memotivasi minat siswa di dalam kelas. Dengan demikian guru akan menjadi kaya ilmu dan kreatifitas yang dapat mencapai standar nasional sesuai dengan SNP yang diprogramkan oleh pemerintah.

Jadi sebenarnya apa yang dikatakan dengan materi bukanlah materi yang ada pada buku paket. Melainkan materi itu adalah, bagaimana hasil interpretasi guru yang disampaikan kepada siswa yang telah dikembangkan dan tentunya menarik bagi siswa. Dengan demikian guru hasrus memiliki kreatifitas dalam pengembangan bahan-bahan pelajaran untuk diajarkan ke dalam kelas.

Minggu, 03 November 2013

Pendidikan Sivik di Malaysia


Pendidikan Kewarganegaraan dalam Mengembangkan Kecekapan Sivik:
Sebuah Perkongsian Pengalaman

Oleh:
Profesor Madya Dr. Rohizani Yaakub
Pusat Pengajian Ilmu Pendidikan,
Universiti Sains Malaysia, 11800 Pulau Pinang
(dikutip dari prosiding seminar internasional pendidikan kewarganegaraan, laboratorium pendidikan kewarganegaraan UPI)

Adalah menjadi kelaziman bagi mana-mana negara di dunia ini yang menjadikan sistem pendidikan sebagai alat untuk menghasilkan warga negara yang diingini. Malaysia juga tidak terkecuali. Bagi memandu ke arah merealisasikan matlamat tersebut, sebuah pernyataan Falsafah Pendidikan Kebangsaan telah dihasilkan pada tahun 1988. Falsafah ini dengan jelas telah menggariskan bahawa sistem pendidikan malaysia harus mampu melahirkan warga negara yang seimbang daripada segala aspek jasmani, emosi, rohani, dan intelek yang mempunyai kepercayaan yang teguh kepada Tuhan.
Falsafah tersebut diterjemahkan menjadi Dasar Pendidikan Kebangsaan (Kementerian Pendidikan Malaysia, 1991: 1), dan matlamat pendidikan kebangsaan ialah untuk:
  • melahirkan bangsa Malaysia yang taat setia dan bersatupadu
  • melahirkan insan yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, berketerampilan dan sejahtera
  • menyediakan sumber tenaga manusia untuk keperluan dan kemajuan negara
  • memberi peluang-peluang pendidikan kepada semua warga negara Malaysia

Sesuai dengan matlamat tersebut, sebuah kurikulum kebangsaan yang mengintegrasikan semua elemen yang berkaitan telah digubal. Salah satu daripada mata pelajaran yang mempunyai objektif menggalakkan kecekapan sivik dalam kalangan murid ialah mata pelajaran Pendidikan Sivik dan Kewarganegaraan.

Menelusuri sejarah pendidikan sivik di Malaysia, laporan Razak (1956) telah menggariskan bahawa mata pelajaran sivik sangat perlu dijadikan sebagai satu mata pelajaran wajib untuk memberi latihan kewarganegaraan dengan menegaskan perpaduan kaum (Zahara Aziz, 1985). Berdasarkan perakuan tersebut dan keperluan semasa, pendidikan sivik sebagai satu mata pelajaran telah mula diperkenalkan pada tahun 1972 (Kementerian Pelajaran Malaysia, 2009). Perkara ini diteguhkan lagi oleh laporan jawatankuasa kabinet (1979) yang sekali lagi memberi keutamaan kepada mata pelajaran pendidikan sivik dengan pernyataan bahawa objektif utama pendidikan sivik ialah menyemai, menanam dan memupuk semangat cintakan negara. Namun, disebabkan tuntutan kemajuan sains dan teknologi yang mementingkan pemerolehan ilmu pengetahuan, maka mata pelajaran pendidikan sivik telah dikeluarkan daripada kurikulum persekolahan bagi memberi laluan kepada mata pelajaran kritikal yang lain pada tahun 1982.

Walau bagaimanapun, setelah dilakukan semakan semula kurikulum, dan dengan keperluan semasa, maka sekali lagi mata pelajaran pendidikan sivik dijadikan mata pelajaran wajib bermula pada tahun 2005. Namun, kali ini pendidikan sivik telah diberi jenama baru dan dikenali sebagai mata pelajaran Pendidikan Sivik dan Kewarganegaraan. Mata pelajaran ini telah diperkenalkan semula secara berperingkat-peringkat, yaitu bermula dengan tahun 4 di peringkat sekolah rendah dan tingkatan 1 di peringkat sekolah menengah. Dengan itu, pada tahun 2009 semua murid sehingga tingkatan 5 telah mempelajari mata pelajaran Pendidikan Sivik dan Kewarganegaraan sebagai satu mata pelajaran wajib di sekolah.

Matlamat utama mata pelajaran Pendidikan Sivik dan Kewarganegaraan ialah untuk memberi kesadaran kepada murid tentang peranan, hak dan tanggung jawab mereka dalam masyarakat dan negara untuk melahirkan anggota masyarakat dan warga negara yang bersatu padu, patriotik dan boleh menyumbang ke arah kesejahteraan masyarakat, negara, dan dunia (Kementerian Pelajaran Malaysia, 2008).

Terdapat tiga objektif utama yang ingin dicapai melalui pembelajaran mata pelajaran ini yaitu mencakupi objektif pengetahuan, objektif kemahiran, dan objektif nilai. Objektif pengetahuan mencakupi pemerolehan ilmu berkaitan peranan dan tanggung jawab individu sebagai warga negara terhadap pembangunan dan kesejahteraan negara. Objektif kemahiran memberi kecekapan mendisiplinkan diri dalam setiap individu supaya dapat bertindak ke arah pembangunan masyarakat dab negara. Objektif nilai pula merangkumi usaha memupuk warga negara yang boleh bertindak berdasarkan pengetahuan dan kemahiran sivik yang dipelajari. Hal ini termasuklah melahirkan individu yang sentiasa bersyukur dan berbangga menjadi warga negara Malaysia, sebuah negara berdaulat.

Sabtu, 02 November 2013

Panduan terhadap topik yang akan diteliti


Situating within the literature
  1. what do we already know about this topic/issue already?
  2. Who else thinks this is important?
  3. What other research has been done?
Jadi pada saat kita akan mulai meneliti sebuah topik, paling tidak kita telah mengetahui sedikit banyak dari topik penelitian yang akan diangkat. Kemudian anda sebagai penulis dapat juga memikirkan bahwa kira-kira siapa saja/pihak-pihak mana saja yang berpikir bahwa topik tersebut penting untuk dilakukan. Lalu, bagaimana informasi yang kita dapatkan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga paling tidak kita sebagai peneliti telah mempunyai gambaran awal mengenai topik yang akan diteliti.


Analysing the data

  1. how i will interpret the data (theory)?
  2. How will i represent the data?

Jumat, 01 November 2013

Definisi PKn


Pengertian PKn menurut Nu’man Sumantri, (2001: 31)

Pendidikan Kewarganegaraan adalah seleksi adaptasi dari lintas-lintas disiplin ilmu-ilmu sosial, ilmu kewarganegaraan. Humaniora, teknologi, agama, kegiatan dasar manusia yang diorganisir dan disajikan secara psikologis dan ilmiah untuk ikut mencapai satu tujuan PIPS-tujuan pendidikan nasional.

Pendapat Benjamin Barber yang dikutip oleh Fachrul Razi dalam artikel mengenal Civic Education di Indonesia diberi label Pendidikan Kewarganegaraan, (Razi, 2001), menyatakan:
Dalam sebuah buku Belajar Civic Education dari Amerika, dijelaskan bahwa Civic Education adalah pendidikan untuk mengembangkan dan memperkuat dalam atau tentang pemerintahan otonom (Self Government). Pemerintah otonom demokratis berarti bahwa warga negara aktif terlibat dalam pemerintahnya sendiri, mereka tidak hanya menerima dikte orang lain atau memenuhi tuntutan orang lain

PKn, smart and good citizenship

PKn untuk warga negara yang baik dan cerdas

Pendidikan Kewarganegaraan mengalami perubahan nama sejak kurikulum 1957 sampai sekarang. Beberapa istilah yang pernah digunakan antara lain mulai dari Civics, Kewarganegaraan, Pendidikan Kewargaan Negara, Civics dan Hukum, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Meskipun demikian Pendidikan Kewarganegaraan pada hakikatnya mempunyai substansi yang sama, yakni berkaitan dengan pengajaran politik, demokrasi, hak dan kewajiban warganegara.
Pada masa sekarang kehadiran Pendidikan Kewarganegaraan (civic education) harus betul-betul dimaknai sebagai jalan yang diharapkan akan mampu mengantar bangsa Indonesia menciptakan demokrasi, good governance, negara hukum dan masyarakat madani yang diidealkan seluruh masyarakat. (TIM ICCE, 2005). Pendidikan Kewarganegaraan secara subsatantif bertujuan mendidik warganegara yang cerdas dan sadar akan hak dan kewajibannya dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara.



sumber:
http://mardhawani-solagraciamardhawanicivic.blogspot.com/2009/05/pkn-sebagai-disiplin-ilmu.html

Asal muasal civic education

Awal mula dikembangkannya pendidikan kewarganegaraan

Pendidikan kewarganegaraan masuk sebagai mata kuliah dari sejak lama yang bermula pada tahun 1907 dipelopori oleh W.A. Dunn yang disebut gerakan Community Civics. Gerakan ini sebagai wujud keinginan lebih fungsionalnya pelajaran (mata kuliah) civics bagi para peserta didik (siswa dan mahasiswa) dengan menghadapkan mereka kepada lingkungan atau kehidupan mereka sehari-hari dalam hubungannya dengan ruang lingkup lokal, nasional, maupun internasional. Perkembangan pengajaran civics atau pendidikan kewarganegaraan selanjutnya tidak terlepas dari pengajaran civics di Amerika sejak tahun 1790, seperti yang dikemukakan oleh Numan Somantri (Suriakusumah,1992) “pengajaran civics mulai diperkenalkan tahun 1790 di Amerika Serikat dalam rangka meng-Amerikakan bangsa Amerika atau terkenal dengan Theory of Americanization”